Bukan TribunNews.com - Kabar Terbaru dan Kronologis Viral Di Sosial Media Twitter, Facebook Serta Beragam Informasi Bermanfaat Seperti Info Kesehatan, Info Teknologi, Info Terkini, Islamedia dan Beragam Kabar Menarik Lainnya Di Sekitar Kota Bontang

Thursday, 22 October 2015

Ilham Rahmat Zarkasi Siswa Berprestasi Dari Bontang : Angkat Mangrove, Biji Nangka Jadi Listrik

Anak Bontang satu ini memiliki kemampuan analisis di atas rata-rata dari pelajar sebayanya. Atletik dan sepak bola dia “tinggalkan” demi cita-cita menjadi seorang ilmuwan. Tahun ini, Ilham Rahmat Zarkasi mengukir sederet prestasi.

SUKRI SIKKI, Samarinda

CIKAL bakal profesor itu lahir di Gunung Telihan, Bontang, pada 19 Juni 1998. Ayahnya, Tukiman, bekerja di PT Kaltim Nusa Etika (KNE) sambil menggeluti usaha budi daya jamur. Sementara itu, ibunya, Komsatun, adalah ibu rumah tangga. Ilham yang biasa disapa A’ing, beberapa bulan ini, menjadi perhatian guru dan teman-teman sekolahnya.

Sebab, sosok yang tenang itu belum pernah masuk ranking tiga besar di kelasnya, tiba-tiba meraih sederet prestasi. Yang teranyar pada 11–13 September 2015, Ilham juara favorit kategori siswa Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) di Universitas Brawijaya Malang, Jawa Timur. Di ajang tersebut, Ilham mengungguli 250 peserta dari berbagai SMA/SMK se-Indonesia.

Lomba tersebut juga diikuti sejumlah mahasiswa dari beberapa perguruan tinggi Tanah Air. Sebelum berangkat ke Malang, Ilham lebih dahulu melakukan penelitian dua bulan. Kemudian, menjalankan serangkaian eksperimen selama tiga bulan.

Dalam LKTI di Universitas Brawijaya, Ilham mengusung tema Pemanfaatan Tanaman Mangrove di Pesisir Kota Bontang sebagai Daya Dukung Lingkungan dan Ekonomi Rakyat. Ada tiga jenis mangrove dia bawa ke Malang, yaitu Sonneratia alba diteliti kandungan vitamin C pada buahnya.

Kemudian, rhizophora diteliti kandungan zat pewarnanya dan Acanthus ebracteatus diteliti kandungan untuk obat cacing. Menurut dia, mangrove merupakan tumbuhan yang dekat dengan masyarakat Bontang, khususnya yang bermukim di wilayah pesisir.

Ya, memang sekitar 70 persen wilayah Bontang adalah lautan. Sayangnya, masih minim pemanfaatan akan tumbuhan tersebut. Padahal, jika dikelola dengan baik, Bontang bisa membangun industri berbahan dasar mangrove dan menambah pendapatan daerah.

Dengan begitu, akan terbuka lapangan kerja baru. Ilham menguraikan, mangrove jenis Sonneratia alba lebih populer disebut perepat (pidada putih). Buahnya bisa diolah menjadi sirop karena kandungan vitamin C yang tinggi. Lalu, mangrove jenis Bruguiera gymnorrhiza, bisa dipergunakan sebagai tepung alternatif bahan baku kerupuk.

Di samping itu, mangrove jenis rhiziphora, buahnya bisa dijadikan bahan pewarna tekstil alami yang ramah lingkungan. Selain itu, mangrove jenis Acanthus ebracteatus atau jeruju bisa menjadi penangkal diabetes dan cacingan. Caranya, jeruju diolah menjadi serbuk teh, lalu diminum.

Dulu, mangrove hanyalah tumbuhan liar di pinggir-pinggir pantai. Seiring pengetahuan akan manfaatnya, tumbuhan mangrove dibudidayakan. Akan tetapi, masih sebatas untuk menangkal abrasi atau pengikisan pantai karena gelombang air laut. Misalnya, di Tongke-Tongke, Sinjai, Sulsel.

Kelompok tani atau nelayan di sana sukses mengembangkan mangrove di sepanjang pantai, hingga sawah dan tambaknya tidak lagi digulung ombak. Dan, hutan mangrove mereka sekaligus menjadi wadah berkembang biak biota laut. Pemerintah pusat pun mengapresiasi dengan Penghargaan Kalpataru.

Selain itu, satwa-satwa yang berkumpul di sana mengundang perhatian wisatawan. Contohnya kelelawar. Hewan tersebut telah membuka mata dunia karena, kabarnya, hati dan empedunya berkhasiat mengobati berbagai penyakit. Anggota DPRD Bontang periode 2000–2004 pernah studi banding ke Tongke-Tongke, entah apa efeknya bagi Bontang sekarang?

Justru, Ilham melirik mangrove menjadi objek penelitian karena potensinya dianggap belum dimanfaatkan secara luas. Dia jeli melihat peluang di sekitarnya. “Tidak perlu jauh, banyak yang bisa kita kembangkan,” kata Ilham, saat ditemui Kaltim Post di rumahnya pekan lalu.

Keberhasilannya mengangkat mangrove membuat teman-temannya yang tergabung dalam kelompok Karya Ilmiah Remaja (KIR) tertarik melakukan penelitian. Khususnya, untuk mangrove jenis Sonneratia overate. Kata Ilham, buah jenis mangrove itu keras dan pahit. Tidak cocok dikonsumsi, tapi bisa dibuat baterai.

Selain mangrove, Ilham sudah meneliti kandungan biji nangka dan mengantarkannya menjadi runner up LKTI provinsi di Universitas Mulawarman. Senyawa-senyawa kimia dalam biji nangka bisa diolah untuk charger ponsel alternatif.

Ilham berharap dukungan pemerintah terhadap peneliti-peneliti pemula. Sebab, dalam setiap melakukan eksperimen, membutuhkan biaya besar. Belum lagi peralatan, kadang didatangkan atau dibeli khusus. “Selama ini, kegiatan kami kebanyakan difasilitasi sekolah. Kalau ikut lomba kadang pakai biaya sendiri, setelah pulang baru diganti,” ujarnya seraya tersenyum.

Ilham memfokuskan diri mengikuti ekstrakurikuler KIR karena bercita-cita menjadi seorang ilmuwan. Dia ingin menjadi seorang peneliti di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Kini Ilham duduk di kelas XI dan setelah tamat akan melanjutkan pendidikan ke Institut Teknologi Surabaya.

Harapan itu didukung penuh oleh orangtuanya. Sang ayah, menceritakan, dari kecil, Ilham punya kemampuan berlari cepat. Karena itu, teman-temannya senang mengajaknya bermain bola. Namun, karena kesibukannya dalam KIR, bakat bermain bolanya dikesampingkan.

“Saya selalu memberikan peluang dan mendukungnya. Karena sibuk, dia (Ilham, Red) hanya sesekali ikut main futsal,” ujarnya.

PERAN GURU
Dewasa ini, prestasi kian sulit diraih, karena situasi semakin kompetitif. Peran guru tak bisa dikesampingkan. Berbagai karakter siswa dengan latar belakang berbeda menuntut guru untuk harus menjiwai siswa-siswanya. Supaya siswa dapat menganggap gurunya sebagai teman, tentu rambu-rambu kesopanan tetap dijaga.

Kedekatan guru dan siswa akan membuat transfer ilmu lancar, karena siswa tidak akan sungkan bertanya. Sebaliknya, guru selaku pembimbing ekstrakurikuler KIR lebih leluasa mengeksplorasi kemampuan siswanya dengan menunjukkan fenomena yang ditemui.

Fenomena itu jelas bakal mengundang seribu tanya di benak siswa. Tapi, mereka akan mudah diajak memecahkan masalah secara kreatif melalui berbagai observasi, kajian ilmiah, maupun percobaan. “Inti dari KIR adalah kerja keras mencari jalan keluar terhadap setiap fenomena,” kata Wahyu Juli Hastuti, guru SMK 1 Bontang.

Syarat utama dalam membuat karya adalah kerja keras, bukan hanya mengandalkan kecerdasan. Itulah prinsip utama dalam pembinaan KIR dan sesuai program pemerintah “ayo kerja”. Contoh nyata ada pada Ilham. Dia belum pernah mendapatkan ranking tiga besar di kelasnya, tapi mampu meraih prestasi nasional.

Bukan hanya Ilham di SMK 1 Bontang yang berprestasi. Ada Aisyah Fitri yang menjadi finalis di ajang National Young Inventors Award. Event itu digelar LIPI pada September 2015. Kemudian, Fikram Oktafiandi dan Anang Ma’ruf Dinata yang menjadi juara dan runner up lomba Teknologi Tepat Guna (TTG) tingkat kota dan menjadi perwakilan Bontang di ajang TTG ke-XVII di Aceh pada Oktober 2015.

Jika mereka memang belum mampu mendapatkan predikat tiga besar nasional, wajar. Sebab, berdirinya KIR di sekolah baru pada 14 Maret 2015. Itu bukan sekadar menunjukkan potensi, tapi juga merupakan jawaban atas kepercayaan Kepsek SMK 1 Bontang Kasman Purba kepada Wahyu sebagai pembimbing KIR.

Wahyu dinobatkan sebagai guru berprestasi tingkat kota pada 2015 dan runner up level provinsi pada tahun yang sama. Jebolan Universitas Negeri Sebelas Maret, Solo (S-1) dan S-2 di Universitas Negeri Surabaya itu mendapat kesempatan mengambil tiga mata kuliah pendidikan di Curtin University di Perth Australia pada 2012 dan lulus dengan predikat cum laude pada 2014. “Saya berterima kasih kepada Pemkot Bontang dan Disdik Kaltim,” kata perempuan kelahiran 1976 itu. (*)

Previous
Next Post »